NGANJUK - Menjelang peringatan hari jadi ke-1089 pada 10 April 2026, pemahaman sejarah asal-usul nama Nganjuk kembali menjadi sorotan. Sukadi, Humas Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk (Kotasejuk), menegaskan pentingnya pelurusan makna istilah “Anjuk Ladang” yang selama ini kerap disalahartikan.
Nama Nganjuk sendiri berasal dari Anjuk Ladang yang tertulis dalam Prasasti Anjuk Ladang, yang ditemukan di Candi Lor atau yang juga dikenal sebagai Candi Jayamerta.
Menurut Sukadi, istilah Anjuk Ladang tidak serta-merta berarti tanah kemenangan sebagaimana sering muncul dalam narasi populer. Ia menjelaskan bahwa dalam prasasti tersebut terdapat frasa “i atau ri Anjuk Ladang” yang secara kebahasaan lebih tepat dimaknai sebagai “di Anjuk Ladang”.
“Dalam konteks ini, Anjuk Ladang jelas merupakan nama tempat, bukan istilah simbolik,” ujarnya.
Lebih lanjut, dalam prasasti yang sama juga ditemukan penyebutan Pu Anjuk Ladang. Kata Pu dalam bahasa Jawa Kuno merupakan gelar atau sapaan bagi seseorang, yang menunjukkan bahwa Anjuk Ladang juga dapat merujuk pada nama tokoh.
“Ini memperkuat bahwa istilah tersebut berfungsi sebagai identitas, baik geografis maupun personal,” tambahnya.
Sukadi juga menegaskan bahwa istilah yang secara langsung berkaitan dengan konsep kemenangan dalam tradisi Jawa Kuno adalah Jayastambha. Secara etimologis, Jaya berarti kemenangan, sementara Stambha berarti tiang atau tugu, sehingga Jayastambha dimaknai sebagai tonggak atau tugu kemenangan.
“Makna kemenangan lebih tepat dilekatkan pada istilah Jayastambha, bukan Anjuk Ladang,” tegasnya.
Ia juga menyinggung kemungkinan tafsir linguistik bahwa Anjuk dapat berkaitan dengan aktivitas meminjam atau menyewa, sementara Ladang merujuk pada lahan garapan. Namun, pendekatan tersebut dinilai bersifat hipotetis dan tidak berdasar langsung pada konteks prasasti.
“Dalam kajian epigrafi, konteks penggunaan jauh lebih penting daripada sekadar kemungkinan makna kata,” jelas Sukadi.
Dengan demikian, dalam kerangka sejarah dan pembacaan prasasti, Anjuk Ladang sebaiknya dipahami sebagai nama, bukan sebagai terjemahan simbolik tertentu. Sementara konsep “tonggak kemenangan” tetap lebih relevan dikaitkan dengan istilah Jayastambha.
Peringatan hari jadi ke-1089 Nganjuk diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat pemahaman sejarah berbasis sumber primer, sekaligus meluruskan narasi yang berkembang di masyarakat.
(John)
