Minggu, 18 Januari 2026

Menanam Sejarah, Merawat Masa Depan: Kegiatan Kotasejuk di Museum Tritik

KOTASEJUK (Komunitas Pecinta Sejarah dan Ekologi Nganjuk) kembali menggelar kegiatan edukatif yang memadukan pembelajaran sejarah dan aksi nyata pelestarian lingkungan. Bertempat di kawasan Museum Tritik, Desa Tritik, Kecamatan Rejoso, Kabupaten Nganjuk, kegiatan ini berlangsung pada Minggu, 18 Januari 2025, dengan melibatkan generasi muda sebagai aktor utama perubahan.

Rangkaian kegiatan diawali dengan kunjungan edukatif siswa SMPN 1 Rejoso ke Museum Tritik. Dalam kunjungan ini, para siswa mendapatkan pendampingan langsung dari Aries Trio, salah satu anggota Kotasejuk , yang memandu penelusuran nilai-nilai sejarah dan arkeologi situs Tritik. Melalui penjelasan kontekstual dan dialog interaktif, para pelajar diajak memahami bahwa sejarah bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi identitas dan pembelajaran untuk masa depan.

Tidak berhenti pada aspek historis, Kotasejuk juga mengajak peserta terlibat dalam aksi penanaman pohon di sekitar kawasan Museum Tritik. Sebanyak 1.000 pohon ditanam sebagai bentuk komitmen nyata terhadap pelestarian lingkungan dan keseimbangan ekologi kawasan situs. Penanaman ini sekaligus menjadi simbol bahwa menjaga warisan sejarah harus berjalan seiring dengan merawat alam yang menopangnya.

Melalui kegiatan ini, Kotasejuk menegaskan visinya sebagai komunitas yang menjembatani sejarah, pendidikan, dan ekologi. Museum tidak hanya diposisikan sebagai ruang penyimpanan artefak, tetapi juga sebagai ruang hidup, tempat belajar, bertumbuh, dan menanam harapan bagi generasi mendatang.

Kotasejuk percaya, menanam pohon hari ini adalah menanam kehidupan, dan mengenalkan sejarah sejak dini adalah menanam kesadaran. Keduanya adalah investasi jangka panjang demi Nganjuk yang berkelanjutan, berakar kuat pada masa lalu, dan bertumbuh menuju masa depan.

Penulis : John

Dokumentasi

Rabu, 07 Januari 2026

Kotasejuk Dorong Penanaman Pohon Bersejarah dan Endemik di Kawasan Hutan Madiun


Kotasejuk turut ambil bagian dalam kegiatan penanaman pohon di kawasan Wana Salam, Desa Dagangan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun, Rabu (7/1/2026). Keterlibatan KotaSejuk menitikberatkan pada penanaman pohon-pohon bersejarah dan endemik sebagai upaya menjaga keseimbangan ekologi dan nilai kearifan lokal.

Dalam kegiatan tersebut, Kotasejuk membawa sejumlah jenis pohon untuk ditanam, di antaranya beringin walik, pule, serta beberapa tanaman endemik lain yang memiliki nilai sejarah dan ekologis. Penanaman ini dilakukan bersama Margowitan Model Forest, KPH Madiun, LMPSDH, dan Pusdikbang SDM Madiun.

Pembina Kotasejuk, Kristomo, mengatakan bahwa keterlibatan KotaSejuk merupakan bagian dari komitmen komunitas dalam merawat hubungan antara sejarah, ekologi, dan keberlanjutan lingkungan.

“Pohon-pohon yang kami tanam bukan hanya berfungsi secara ekologis, tetapi juga memiliki nilai sejarah dan filosofis. Ini bagian dari ikhtiar kami menjaga kesinambungan alam sekaligus memori sejarah yang hidup di tengah masyarakat,” ujarnya.

Menurut Kristomo, Kotasejuk mendorong agar upaya pelestarian lingkungan tidak dilepaskan dari keberlanjutan ekonomi masyarakat, namun tetap menjaga batas agar eksploitasi tidak merusak ekosistem hutan.

“Kami percaya bahwa ekologi dan ekonomi harus berjalan beriringan. Tetapi ekonomi tidak boleh mengalahkan ekologi. Prinsip ini yang terus kami dorong dalam setiap kolaborasi,” katanya.

Kotasejuk juga menilai kolaborasi dengan Margowitan Model Forest dan Perhutani sebagai model pengelolaan hutan berbasis partisipasi masyarakat. Perencanaan kegiatan yang dilakukan secara bottom-up dinilai mampu mengakomodasi kebutuhan dan potensi lokal.

Ke depan, Kotasejuk berencana memperluas kegiatan serupa ke wilayah lain yang memiliki nilai sejarah dan ekologis, termasuk kawasan lereng Gunung Wilis. Selain itu, komunitas ini juga mendorong pengembangan dan penelitian tanaman endemik, seperti kemenyan putih, melalui penerapan teknologi pemulihan pohon.

Melalui keterlibatan aktif dalam kegiatan penanaman ini, Kotasejuk berharap upaya pelestarian hutan tidak hanya berhenti pada aksi simbolik, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan yang melibatkan masyarakat, komunitas, dan pengelola hutan secara bersama-sama.


(John)

Dokumentasi Kegiatan: